Sudah merupakan hal biasa bagi kami, warga Notoprajan maupun Suronatan setiap masuk bulan Ramadhan, aktivitas perekonomian di sekitar kampung kami sepi. Sepi pengunjung, sepi pembeli. Maklumlah, sebagian besar penduduk dua kampung tersebut menggantungkan dagangannya dari para pendatang yang bermukim dan study.
Sebuah madrasah berdiri ditengah-tengah kedua kampung tersebut, Madrasah Mu’allimat. Didirikan pada tahun 1921 yang memadukan sistem pendidikan pesantren dan formal. Seluruh santrinya adalah perempuan. Berasal dari berbagai pelosok tanah air. Pendidikan selama 6 tahun, dimulai semenjak lulus sekolah dasar hingga tamat setingkat SMU.
Memasuki bulan Ramadhan, seluruh kegiatan belajar mengajar di madrasah tersebut diliburkan, diganti dengan kegiatan da’wah di daerah masing-masing. Otomatis nadi perekonomian di kedua kampung tersebut sepi aktivitas.
Laundry tak ada lagi titipan pakaian kotor. Wartel sepi pemasukan. Penjual makanan menutup warungnya. Warnet memilih menghentikan sementara berlangganan speedy-nya. Penjual asesoris wanita pun berhenti kulakan.
Hal tersebut sudah berlangsung sangat lama. Subhanallah, Maha Suci Allah, meski demikian hal tersebut tidak menjadikan perekonomian kami kekurangan atau bangkrut. Bahkan saat ini pebisnis laundry bertambah banyak, warnet untuk lingkungan yang sekecil itu juga bertambah, wartel bertambah dua, rental dan fotocopy pun sampai saat ini masih exist.
Dipagi hari, kurang lebih jam 05.30-07.00. Pedagang makanan dikerumuni santri-santri Mu’allimat. Pedagang asongan sate sibuk mengipas tiga lusin sate dalam satu waktu. Pedagang gudeg dengan cekatan menyatukan gudheg, tahu putih, ayam, krecek dan areh sesuai pesanan pembeli. Pedagang grontol (jagung yang ditaburi parutan kelapa) juga sibuk melayani pembeli. Pedagang gorengan juga sibuk membungkus pesanan santri Mu’allimat.
Siang hari, mulai pukul 12.30 hingga magrib, giliran operator warnet yang dibikin sibuk oleh banyaknya santri Mu’allimat yang ingin mengakses internet, sampai harus menyediakan selembar kertas sebagai tempat untuk mencatat daftar antrian. Penjual ice es jus sibuk mengupas, memotong dan mem-blender potongan buah permintaan pembeli. Penjual aksesoris wanita juga penuh sesak, ada yang membeli gelang warna pink, slayer warna pink, bando warna pink, … pink.
Masuk waktu magrib, seluruh santri tidak diperbolehkan untuk keluar asrama, semua harus sudah berada di dalam asrama. Terlihat suasana yang sangat berbeda. Jalan dan gang menjadi sepi, aktivitas perdagangan hanya sebagian kecil saja yang masih buka.
Subhanallah, kami hanya menjajakan dagangan mulai dari pukul 05.30 sampai dengan magrib, tapi sudah cukup menggairahkan perekonomian kami. Menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan dapur, membayar kredit, melunasi tagihan listrik dan … dan … dan ….. Semua itu dapat terpenuhi hingga saat ini, dari buyut hingga cicit kami. Subhanallah wal Hamdulillah!