Seekor burung menggigil kedinginan. Sayap menutup rapat seluruh badannya, leher cantik hampir tak tampak tenggelam dalam sayapnya, kakipun juga. Keindahan burung itu di siang dingin ini sama sekali tak tampak, semua burung tampak sama seperti itu. Tak terdengar kicau burung, hanya hembusan angin.
Kabut melayang berat diantara sela-sela daun dan ranting. Rintik-rintik embun jatuh dengan deras. Dingin yang teramat sangat!! Ya, Agustus di Gunung Semeru.
Bulan Agustus 2001, kami menyusun rencana untuk mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, Gunung Semeru ( 3.676 m). Modal nekat adalah modal utama kami dalam setiap pendakian gunung. Terbukti kami hanya mendaki berdua saja, tanpa mengetahui medan yang akan kami lalui, tanpa peduli nanti resiko apa yang akan kami hadapi, tanpa peduli keluarga mengkhawatirkan kami.
Menggunakan kereta ekonomi, tanpa karcis kami berdua sampai ke terminal terakhir. Dari Malang dengan naik angkot jurusan Tumpang, kemudian menuju desa Ranupane menggunakan Jeep ongkosnya Rp. 6.000 sampai Rp. 10.000 ,- per orang. Hmm satu Jeep diisi sepuluh orang+perbekalan.
Desa Ranupane adalah desa terakhir dan tempat untuk melapor bagi para pendaki untuk naik. Disebut Ranupane karena terdapat danau/Ranu. Di Ranupane kami bertemu dengan rombongan pendaki dari jogja, waduh saya lupa nama mereka, kl gak salah mereka punya basecamp di dekat Borobudur Palza Jogja.
Kami istirahat sebentar, sembari menikmati jajanan disekitar desa Ranupane, Rawon. Ya, Rawon dengan tambahan cabe segedhe wortel. Kata penduduk sekitar, cabe tersebut hanya dapat ditanam di lereng-lereng gunung.
Perjalanan ke Puncak G. Semeru dimulai dan desa Ranupane menuju Ranu Kumbolo setelah kami beristirahat sekitar 2 jam. Berjalan melalui jalan setapak, jaraknya 13 Km, perjalanan menuju Ranu Kumbolo tidaklah terlalu terjal dengan memakan waktu sekitan 3-4 jam perjalanan, kami sampai di Ranukumbolo malam hari.
Subhanallah!!! Itulah kata yang pertamakali terucap ketika melihat keindahan danau Ranukumbolo. Terdapat danau yang luas, bersih dan tenang. Dikelilingi pepohonan, dan rerumputan. Para pendaki dapat mendirikan tenda di pinggir danau tersebut. Ranukumbolo di malam hari sangatlah menakjubkan, pantulan cahaya penerangan dari tenda-tenda pendaki memantul di permukaan danau, kami seolah-olah melihat dermaga di tengah-tengah gunung!
Pagi hari ketika kami keluar dari tenda, kami terkejut, rerumputan yang tumbuh di danau tersebut tertutup kristal-kristal salju embun yang membeku. Memang pagi itu sangat dingin, badcover dan jaket tebal tidak sanggup menahan dinginnya pagi itu. Kami perkirakan saat itu mungkin suhu mencapai 0 derajat celcius.
Di atas permukaan danau, melayang-layang kabut tipis ditiup angin lembut, hampir keseluruhan permukaan danau tertutup kabut. Baru kali ini kami mendaki gunung disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan.
Tanjakan Cinta, boleh dibilang sebagai ujung dari Ranukumbolo yang berbatasan dengan padang rumput yang luas. Tanjakan pendek yang sangat terjal. Diberi nama Tanjakan Cinta karena menurut mitos, apabila ada yang sanggup melewati tanjakan tanpa beristirahat, maka cintanya akan lancar dan langgeng… hehe
Setelah bermalam selama dua hari sembari menikmati suasana yang sangat syahdu menakjubkan, perjalanan kami lanjutkan menuju Kalimati melalui padang rumput dan hutan cemara. Disini kita dapat mendirikan tenda, dan apabila kita membutuhkan air dapat menuju Sumbermani, kearah barat menelusuni pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh perjalanan 1 jam pulang pergi. Tetapi kami tidak berminat untuk mendirikan tenda disini, istirahat sebentar, kami lanjutkan perjuangan perjalanan kami menuju puncak.
Selanjutnya kami sampai di Kalimati sekitar jam 7 malam, kami putuskan untuk mendirikan tenda sembari menunggu waktu yang tepat untuk menuju puncak Gunung Semeru. Kondisi tanah disini kurang stabil dan sering tenjadi tanah longsor.
Dari Kalimati biasanya para pendaki memulai pendakian menuju puncak pagi-pagi sekali, yaitu sekitar pukul 2 – 3 pagi dengan melalui hutan cemara 1 jam dan bukit pasir selama 2 – 3 jam untuk sampai di puncaknya, dengan keadaan jalan yang terjal menanjak disertai longsoran pasir dan batu, paling tidak batu sebesar ember.
Sebenarnya perjalanan terberat dari Ranupane sampai ke puncak adalah disini. Harus melawan udara tipis, longsoran batu dan pasir, apalagi kalo siang panas teriknya seperti disengat lebah. Setiap melangkah dua langkah, akan longsor turun satu langkah. Belum lagi mata dan telinga kami harus sigap menghindari kalu-kalau ada batu sebesar becak ember yang longsor.
Alhamdulillah… Setelah melalui perjuangan yang berat, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Semeru, ato sering disebut juga Puncak Mahameru. Lutut kami menyentuh tanah, diikuti kedua telapak tangan. Jidat dan hidung-pun mengikut lutut dan telapak tangan kami. Kami bersujud syukur dengan penuh haru dan takjub. Kami sudah berdiri di tanah tertinggi di Pulau Jawa, di Puncak Mahameru ini.
Dari puncak ini akan terlihat kawah yang disebut Jonggring Saloko dan yang uniknya setiap 10-15 menit sekali menyemburkan batuan vulkanis dengan didahului asap yang membumbung tinggi. Suhu di puncak Mahameru dingin sekali yaitu 0-4 C yang kadang-kadang berkabut tebal disertai badai angin.
Ada satu momen yang menarik disini, karena bertepatan dengan hari kenerdekaan RI, kami para pendaki yang saat itu berada di puncak, mengadakan upacara bendera. Persis seperti sewaktu sekolah. Ada pemimpin upacara, pembaca teks Pancasila, UUD, dan yang paling mengharukan ketika kami menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hiks..hiks..banyak diantara kami menitikkan air mata, sekian tahun saya mengikuti upacara bendera, baru kali ini saya bisa terharu.
Kami tidak bisa berlama-lama di Puncak Mahameru, segera kami turun kembali langsung menuju Ranukumbolo, sebagai tempat peristirahatan kami. Ada pengalaman yang tak terlupakan sewaktu turun dari Gunung Semeru. Kami sempat terpisah satu dengan lainnya. Bingung, kalut, cemas. Saya mengira teman saya terperosok di jurang, begitu juga dengan perkiraan teman saya. Kami bisa bertemu kembali setelah malam hari di Ranukumbolo.
Buat teman seperjalanan saya, kapan nih mau naik gunung lagi? Hmm kayaknya sudah tidak memungkinkan, mengingat usia kesibukan masing-masing. Mungkin tulisan ini bisa mengobati rasa kangen, kangen hawa dingin dan bau harum bunga Edelweis.